Napak Tilas Sejarah Bung Karno di Kota Bengkulu

September 1, 2017
Mengunjungi Candi Muara Takus, Jejak Sejarah Kerajaan Sriwijaya di Riau
June 13, 2017
Pusat Latihan Gajah Riau, Petualangan Rimba yang Seru
September 2, 2017

Perjalanan kali ini, Keluarga Petualang mencoba menyusuri jejak Sejarah Bung Karno di Kota Bengkulu. Kota yang kerap diidentikkan dengan bunga Raflesia dan sering disebut dengan Land of Raflesia atau Bumi Raflesia.

Salah satu pantai di Bengkulu

Meskipun tidak memiliki kekayaan wisata maupun sumber daya alam seperti kota lain di Sumatera, Bengkulu memiliki catatan panjang tentang sejarah berdirinya republik ini. Mulai dari Fort Marlborough yang dibangun oleh VOC untuk menjaga pos penimbunan lada di bengkulu, Rumah Pengasingan Bung Karno hingga rumah kelahiran Fatmawati, Ibu Negara pertama Republik Indonesia yang dikenang sebagai tokoh yang menjahit Sang Saka Merah Putih untuk dikibarkan pertama kali pada hari proklamasi kemerdekaan.

Lokasi petualangan pertama kami di Bengkulu dimulai dengan mengunjungi Fort Marlborough. Sebuah benteng yang didirikan oleh pemerintahan kolonialisme Inggris di kota Bengkulu. Pada halaman luar terdapat tulisan The Hystorical Heitage of British Colonization in Bengkulu 1714 – 1741. Benteng ini sendiri dipergunakan bahkan hingga perang kemerdekaan melawan Jepang dan Belanda dan pada tahun 1950 berubah fungsi menjadi markas TNI AD hingga tahun 1977 untuk kemudian dijadikan cagar budaya.

sejarah Bung Karno di Kota Bengkulu

Fort Marlborough

Tarif masuk ke benteng ini cukup murah, kalau tidak salah hanya Rp.5.000,- per orang dewasa saja dan Rp.3.000,- untuk anak-anak. Saya tiba-tiba teringat dengan Benteng Rotterdam di Makassar.

Posisi dan bangunan benteng ini sekilas juga mirip dengan Rotterdam yang menghadap ke lautan seolah bersiap menghadapi serbuan musuh dari laut dan kalau dilihat dari atas, juga menyerupai kura-kura yang menghadap ke laut.

Fort Marlborough

Ada yang menarik di salah satu sudut, terlihat ruangan yang menunjukkan tempat Soekarno pernah diinterogasi di ruangan itu. Kemudian ada tiga buah makam di dalam benteng. Dari tulisannya, penguasa kolonial Inggris bernama Thomas Parr dan pegawainya yang tewas dibunuh rakyat Bengkulu, dimakamkan disana.

Puas berkeliling di Fort Marlborough, kami melanjutkan perjalanan ke Rumah Pengasingan Soekarno pada kurun waktu 1938-1942 setelah sebelumnya sempat diasingkan di Ende, Flores.

Rumah ini ditempati Bung Karno bersama dengan isteri pertamanya Inggit Garnasih. Di rumah ini pulalah Ibu Inggit menjamu dan mengijinkan Fatmawati anak dari Hassan Din, tokoh Muhammadiyah untuk tinggal di rumah ini bersama anak angkat mereka Ratna Djuami. Kelak, Bung Karno akhirnya menikah dengan Fatmawati.

Rumah Pengasingan Bung Karno

Di Rumah ini kita bisa melihat berbagai macam benda peninggalan sejarah Bung Karno di Kota Bengkulu, diantaranya Sepeda dan ranjang yang pernah dipakai Bung Karno selama di Bengkulu serta koleksi foto-foto bersejarah yang merekam berbagai macam kegiatan Bung Karno. Untuk masuk rumah pengasingan Bung Karno ini dikenakan tarif sangat murah yaitu hanya Rp.5.000,- saja.

Tidak lengkap rasanya menelusuri sejarah Bung Karno di kota Bengkulu tanpa mengunjungi Rumah Ibu Fatmawati. Dengan tangan terampil wanita inilah bendera Sang Saka Merah Putih dibuat. Bahkan mesin jahit yang digunakan waktu menjahit bendera inipun masih terletak rapi di atas meja salah satu ruangan kamar dan berfungsi dengan baik.

Mesin jahit bersejarah itu

Nah, untuk masuk ke rumah ini, tidak ditentukan tarif. Hanya ada sebuah buku tamu tergeletak di meja depan dengan catatan nama dan alamat pengunjung dan beberapa lembar uang Rp.10.000,- terselip di dalamnya.

Setelah puas berkeliling di rumah kelahiran Ibu Fatmawati, kami melanjutkan petualangan dengan mendatangi Museum Bengkulu. Berlokasi di Jalan Pembangunan Bengkulu, museum ini cukup gampang diakses karena masih terletak di tengah kota. Disini kami bisa melihat benda-benda peninggalan bersejarah Provinsi Bengkulu.

Tempat lain yang hanya kami singgahi tanpa sempat masuk ke dalamnya adalah Pemakaman Karabela yang merupakan sisa jejak pengaruh aliran Syiah di Bengkulu. Memang Bengkulu mempunyai tradisi Tabot yang mirip dengan Tabuik di Pariaman, sebuah prosesi mengenang terbunuhnya Husein cucu Nabi SAW di Karbala.

Sedihnya, kami sampai ke Bengkulu hanya berselang dua hari setelah acara Tabot usai. Jadi kami melewatkan kesempatan untuk menyaksikan prosesi Tabot tersebut.

Satu hal lain yang kami lewatkan adalah melihat langsung Bunga Raflesia yang menjadi ciri khas Kota Bengkulu. Sayang, sepanjang perjalanan, kami tidak menemukan tanda-tanda bunga itu sedang mekar.

Replika Raflesia di halaman Museum Bengkulu

Soal kuliner, Bengkulu punya makanan khas yang mirip dengan Palembang dan Jambi yaitu Mpek-Mpek. Ada juga Tempoyak Durian, makanan yang diolah dari fermentasi buah durian. Disini tempoyak dimasak dengan udang dan cabe. Rasa duriannya begitu menyengat dan menambah selera makan.

Nah, itulah catatan perjalanan kami sehari bertualang menyusuri jejak sejarah Bung Karno di kota Bengkulu. apakah Anda pernah kesini dan punya pengalaman lain dengan kota Bengkulu? Silakan beri masukan di kolom komentar yah ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *