Istana Siak Sri Inderapura, Ketika Melayu dan Timur Tengah Berpadu

September 6, 2017
Pusat Latihan Gajah Riau, Petualangan Rimba yang Seru
September 2, 2017
Mengunjungi Rumah Si Pitung, Legenda dari Betawi
September 19, 2017

Pilihan tulisan kali ini jatuh ke lokasi wisata di Siak yang berjarak sekitar 2,5 jam perjalanan darat dari Pekanbaru. Tujuannya tak lain dan tak bukan adalah mengunjungi Istana Aseraya Al Hasyimah atau lebih dikenal dengan Istana Siak Sri Inderapura

Perjalanan dari Pekanbaru lumayan lancar dan mulus, jalan ke Siak ini juga sudah dibeton, karena dulunya jalan aspal sangat mudah hancur ketika dilewati mobil truk pengangkat sawit yang lalu lalang. Sepanjang perjalanan, pemandangan kiri dan kanan jalan hanyalah hamparan kebun sawit yang sebagian besar terlihat baru tumbuh. Sejenak kami teringat tentang bencana kabut asap di Riau yang tidak lain penyebabnya adalah pembukaan lahan sawit dengan cara dibakar dan kemudian tidak terkendali. Apakah ini salah satu lahan penyumbang asap terbesar waktu itu? Kami juga tidak tahu pasti.

istana siak sri inderapura

Jembatan Tengku Agung Sulthanah Latifah

Memasuki kota Siak, kami disambut oleh megahnya bangunan Jembatan Siak atau Jembatan Tengku Agung Sulthanah Latifah yang diambil dari nama istri Raja Siak Sultan Syarif Hashim. Memiliki panjang 1.2 KM dengan dua menara kembar yang sangat tinggi dengan bangunan atau ruangan luas diatasnya. Konon rencananya akan dibuat tempat makan untuk pengunjung dengan view kota siak dari ketinggian *wheww.. bayanginnya aja udah bikin gemetaran*

Seperti jembatan lain pada umumnya, untuk alasan keselamatan, kendaraan apapun dilarang parkir di sepanjang jembatan ini. Namun untuk memuaskan hasrat selfie rasa penasaran, setelah memarkir mobil di ujung jembatan di tempat yang cukup aman, kami berjalan kaki di jalur yang disediakan. Terasa jembatan itu bergoyang dengan begitu kencang ketika ada mobil yang lewat.

Tak ingin membuang waktu lebih lama, kami kemudian bergegas menuju Istana Siak Sri Inderapura. Jaraknya tidak begitu jauh dari jembatan dan terletak di dekat pinggiran sungai. Untuk memudahkan pencarian lokasi, kami menggunakan aplikasi penunjuk arah Waze, cukup friendly user dan sangat akurat terutama saat berada di dalam kota dan mencari tempat tertentu yang kita tuju.

Dari kejauhan terlihat bangunan Istana Siak Sri Inderapura berdiri dengan megahnya. Istana ini terlihat dibangun dengan nuansa timur tengah, agak berbeda dengan Istana Maimun di kota Medan yang bernuansa Italia. Udara panas dan terik kota ini menambah kentalnya nuansa timur tengah. Sangat disarankan untuk membawa alat pelindung sengatan panas matahari kalau datang kesini seperti payung atau topi. Usahakan juga memakai baju yang berbahan kaos, karena panasnya begitu menyengat dan membuat kita banjir keringat.

Parkiran kendaraan terletak agak jauh dari kawasan Istana karena memang kendaraan tidak diperkenankan masuk ke dalam komplek Istana. Di gerbang, ada loket penjualan tiket masuk. untuk Dewasa Rp.5.000, Anak-anak dibawah 5 tahun gratis sedangkan diatas 5 tahun Rp.2.500,-

Di halaman depan Istana, terlihat beberapa meriam yang tersebar di beberapa titik, sepertinya dulu berfungsi untuk pertahanan utama dari serangan musuh.

istana siak sri inderapura

Ruangan pertama kita disambut dengan diorama yang menggambarkan Sultan yang sedang mengadakan rapat dengan anggota kerajaan lainnya.

istana siak sri inderapura

 

Istana ini memiliki ruangan yang besar dan megah dengan beberapa cermin besar di dinding. Berbagai patung kepala binatang juga terlihat menjadi hiasan di dinding. Uniknya, selain terdapat di dalam ruangan, ada enam patung elang yang terletak di puncak menara istana yang menggambarkan keberanian kerajaan Siak Sri Inderapura.

Berbagai macam benda koleksi istana bisa kita temui disini. Salah satu benda yang jadi favorit terutama bagi pengunjung wanita adalah Cermin Permaisuri yang terbuat dari kristal. Ada juga alat musik bermerk “Komet” yang konon hanya ada dua di dunia ini, dibawa oleh Sultan Siak XI pada tahun 1896 saat lawatannya ke Eropa.

Ada tangga menuju ke lantai dua, buat yang agak takut ketinggian, mungkin naik tangga ini akan sedikit membuat pusing karena selain tinggi, tangga ini juga melingkar seperti ulir. Tangga besi ini sangat kokoh, tapi lantai dua dibatasi hanya untuk 50 orang pengunjung maksimal berada di atas. Lantai atas juga berisi koleksi Istana dan banyak foto-foto dokumentasi penting lainnya.

istana siak sri inderapura

Sementara di bagian belakang Istana, terlihat sebuah bangunan berbentuk kapal, entah gunanya untuk apa, kebetulan waktu itu kami sempat mengambil fotonya dari lantai dua tetapi lupa mendatanginya begitu turun.

Kalau beruntung, saat berkunjung kesini kita bisa melihat performa tari dan musik Melayu yang dibawakan oleh anak-anak sanggar. Dengan gemulai mereka menari mengikuti alunan musik yang merdu dari alat-alat musik tradisional melayu itu.

Di dekat parkiran mobil, ada sebuah bangunan yang menarik perhatian kami, ternyata itu adalah Pemakaman Koto Tinggi yang berisi makam dari keluarga kerajaan. Ada belasan anggota keluarga yang dimakamkan disitu. Diluar bangunan juga terdapat beberapa makam, mungkin mereka dari strata yang lebih rendah seperti pekerja atau pembantu di istana atau masyarakat biasa.

Tak jauh dari Istana Siak, terdapat makam pahlawan nasional Sultan Syarif Qasyim II, letaknya persis di samping Masjid Raya Sahabuddin.

istana siak sri inderapura

Setelah puas berkeliling melihat-lihat dan Sholat Zuhur di Masjid ultan Syarif Hashim, saatnya menyantap bekal yang dibawa dari rumah. Nasi yang dibungkus lembaran daun pisang terasa begitu nikmatnya meski hanya berlauk telor balado dan rebusan daun singkong.

Pilihan tempat kami makan adalah Turap atau bantaran sungai yang disulap menjadi tempat nongkrong. Sebenarnya kursi-kursi dan meja itu adalah milik penjual makanan disana, tapi hanya dengan memesan beberapa gelas jus dan kelapa muda, kita bisa gelar bekal yang dibawa dari rumah.

Bagaimana? Apakah Anda tertarik mencoba jalan-jalan hemat tapi tetap berkesan ke Istana Siak Sri Inderapura ? ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *